Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Bu Guru, Sekolah Itu Apa?

Bu Guru,  sekolah itu apa sebenarnya? Aku murid kelas 5 SD. Datang pagi setiap hari. Berbaris rapi dan cium tangan hormat sebelum masuk kelas.  Pelajaran pertama  matematika. Mudah sekali. Nilaiku selalu diatas sembilan. Pelajaran kedua Bahasa Indonesia. Ada peribahasa dan latihan membuat paragraf. Sesekali menjadi karangan. Karanganku tidak selalu baik. Setidaknya mendapat nilai tujuh. Pelajaran ketiga  IPA. Aku suka melihat pelangi, dan aku mengerti bagaimana proses terjadinya.  Ah nilaiku tak pernah kurang dari sembilan.  Hari-hari di sekolah, bermain dengan kawan-kawan dikelas secara sembunyi atau di lapangan saat jam istirahat. Atau  saat menunggu jemputan pulang. Tapi apakah sekolah itu?   Kemaren aku dimarahi ayah karena tidak bisa menjaga adikku sehingga jatuh. Kata ayah “Percuma saja kamu juara kelas kalau mengurusi adik saja tidak bisa”. Ah aku kan anak pintar. Tapi tidak ada pelajaran yang mengajari bagaimana caranya bertanggung jawab ...

keluar Dari Jeratan "Bangsa Kuli"

Tulisan ini ditulis oleh  Retor AW Kaligis  Doktor Sosiologi Universitas Indonesia; Koordinator  Link (Lingkaran Komunikasi) Nusantara di Rubrik Opini pada Harian Kompas, senin 6 Desember 2010. Harga diri bangsa kerap terusik oleh kisah pilu tenaga kerja Indonesia. Kisah seperti terkatung-katungnya nasib ratusan pekerja asal Sukabumi di negeri tempatnya bekerja, penganiayaan Sumiati di Arab Saudi, tewasnya Rohani di Oman, dan telantarnya para TKW di Dubai berulang kali terjadi. Istilah ”bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa” seolah tak bisa lepas pada diri bangsa Indonesia. Istilah yang dipopulerkan Soekarno itu menggambarkan marjinalisasi dan proletarisasi bangsa di tengah alamnya yang luas dan kaya. Soekarno mengaku mendapatkan istilah ini dari Muso ketika berguru pada tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto, di Surabaya lebih dari 90 tahun lalu (Cindy Adam, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, 1966: 54). Konstruksi sosial Ada anggapan negeri eks koloni...

Provokasi Korea Utara Terhadap Korea Selatan

Dua Negara serumpun dilain belahan dunia sana, Korea Utara dan Korea Selatan, berada diambang perang. Korsel meningkatkan kekuatan militer di lima pulau di Laut Kuning. Adapun Korut mengancam akan menyerang lebih intensif lahi jika AS-Korsel jadi menggelar latihan perang bersama. Memang di sekitar laut tersebut sebelumnya sudah terjadi persaingan antar negara. Jepang dan Rusia terlibat perseteruan di sekitar Pulau Hokaido, Jepang dan China sama-sama mengklaim pulau - pulau di Laut Cina Selatan ( P. Senkaku ke Jepang, P. Diaoyu ke China ), beberapa negara juga mengklaim atas Spratley, namun  garis pantai Laut Kuning dimana disitulah perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan adalah perseteruan yang lebih explosif diantara semuanya. Lebih dari itu Korea Utara juga sebelumnya telah menggetarkan dunia dengan aksi Nuklirnya. Nuklir Korut telah mengguncangkan keseimbangan di Asia Timur. Waktu itu tebersit kekhawatiran, bagaimana kalau Jepang dan Korea Selatan lalu mengikuti jejak...

Seandainya Saya Gubernur DKI

Tulisan in ditulis oleh Rizal Ramli di Opini Kompas Cetak mbi9.wordpress.com Saya berandai-andai menjadi Gubernur DKI karena geregetan melihat kemacetan yang luar biasa dan banjir tidak terkendali di DKI. Sudah tentu saya sebelumnya mohon maaf kepada sahabat saya, Gubernur Fauzi Bowo, orang baik dengan tanggung jawab yang sangat kompleks. Saya terpaksa berandai-andai karena kelihatannya tidak ada solusi dan harapan untuk menyelesaikan masalah kemacetan dan banjir. Bangsa yang tidak memiliki harapan adalah bangsa yang mandek, tidak memiliki kreativitas, dan akhirnya terperosok menjadi bangsa yang terus-menerus bermasalah. Saya sendiri bukan ahli tata kota, tetapi sulit membayangkan bahwa hanya dengan memindahkan Ibu Kota, masalah kemacetan dan kesemrawutan Jakarta akan berkurang.  Sekitar 20 persen lalu lintas kendaraan dari dan ke Jakarta terkait dengan kegiatan Pelabuhan Tanjung Priok. Adalah lebih bermanfaat untuk memindahkan kegiatan pelabuhan utama Republik Indonesia...

Indonesia Lalu, Kini dan Esok

Tumpah Darah Satu, Tumpah Darah Indonesia. Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia. Berbangsa Satu Bangsa Indonesia. Itulah sepetik dari sumpah salah satu pahlawan Nasional Indonesia yaitu Gajah Mada yang mampu menyatukan Rakyat Indonesia menjadi satu kesatuan yang kokoh. Namun apakah kita masih bisa disebut-sebut sebagai Masyarakat atau Bangsa yang kokoh lagi? Dahulu memang bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang patut untuk dipikir ulang oleh bangsa lain. Mereka menghormati pemimpin kita, memandang nenek moyang kita serta menyanjung limpahan rahmat dan anugerah alam kita. Tapi seiring berjalannya waktu, kini Indonesia hanya menjadi sebuah nama, sebuah Negeri yang serba kekurangan, keterlambatan dan kemiskinan. Namun perlu kita garis bawahi, Indonesia adalah tanah air kita, negeri kita. Saya jadi teringat akan apa yang dituliskan oleh Pak Jakob Oetama dalam bukunya yang berjudul Berpikir Ulang Tentang Keindonesian, …“ Inilah rumah kita! Masih bocor atapnya, masih berlubang dindingny...

Kedahsyatan Film - Film Religi Tanah Air

Assalamualaikum Wr Wb. Ramdhan telah usai, Lebaran pun demikian. Hari - hari dimana limpahan rahmat dan hidayahnya telah pergi meninggalkan kita yang Insya Allah akan menyapa kita tahun depan. Kini Syawal pun datang menghampiri umat manusia di muka Bumi ini. Namun ada sesuatu yang berbeda di ranah pertelevisian tanah air. Kenapa? Yup, berbondong-bondong mereka menayangkan tayangan islami, mulai dari musik islam, kajian islam, sinetron sampai dengan Box Office Movie Islam.  Satu hal yang saya garis bawahi, Box Office Movie Islam, di saat - saat seperti inilah yang sangat dinanti dan berguna (menurut saya) untuk masyarakat guna menghidupkan kembali nilai - nilai agama yang sempat rapuh. Pada dari Taya Lebaran lalu, di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, menanyangkan ulang film Ketika Cinta Bertasbih ( KCB ) dan KCB 2 . Jujur, sebelumnya saya belum pernah menonton film yang satu ini dan saya tidak tertarik sama sekali. Dan kemudian ketika tayang untuk kesekian kalinya di...

Mengawali Dengan Senyuman, Mengakhiri Dengan Tersenyum

foto: hmansyah.wordpress.com Marhaban Yaa Ramadhan, Marhaban Sahru Ngibadah, Marhaban Sahru Sangadah . Tak terasa Bulan Suci Ramadhan ini hampir usai, segala macam usaha untuk mengisi salah satu bulan bagus ini telah dilakukan mulai dari hal yang kecil seperti menyeberangkan nenek tua sampai dengan berzakat di akhir bulan nanti. Segenap madah dan rasa syukur sudah selayaknya kita panjatkan untuk-Nya, karena kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kenikmatan bulan penuh berkah ini. Sebelum bulan suci ini datang, orang-orang bersuka cita menyambut keagungannya. Ada yang menyambut dengan berbagai upacara ritual, pembersihan diri dan bermaaf-maafan. Ada pula yang biasa-biasa saja, tapi pada dasarnya kita bahagia menyambut bulan puasa ini dengan senyuman. Sebenarnya tugas utama kita di bulan Ramadhan ini apa sih? Mungkin Anda juga pasti sudah tau. Berpuasa, yup puasa selama satu bulan merupakan ibadah utama yang dikerjakan umat islam di Bulan Ramadhan. Shalat Tarawih dan membayar ...

Mengenal SMK Lebih Dalam

Makin hari semua harga kian naik. Mulai dari pangan, pakaian sampai pendidikan. Untuk di sektor pendidikan, sebagian besar Masyarakat khususnya Orang Tua lebih memilih enggan atau belum mampu menyekolahkan ankanya ke tingkat yang lebih tiggi. Tapi kalau untuk SD, SMP sih mungkin masih bisa karena ada BOS ( Bantuan Operasional Sekolah ) dan juga program pemerintah wajib belajar 9 tahun. Namun setelah tamat dari SMP, mereka mau melanjutkan ke SMA/SMK. Nah disinilah yang mungkin menentukan masa depan nati. Jika Anda cukup uang untuk melanjutkan sekolah lagi sampai ke perguruan tinggi maka silakan pilih SMA, tapi kalau ingin langsung terjun ke dunia industri / kerja maka pilih SMK. Dalam kesempatan ini, saya ingin menjelaskan atau memperkenalkan SMK lebih dalam lagi. Mungkin sebagian orang masih mengira bahwa SMK itu tidak kompetitif, tidak dapat bersaing, tidak bagus dan tidak - tidak lainnya. Namun pada kenyataannya SMK bisa. Kini SMK telah menjadi salah satu unsur terpenting dalam i...

Sterilisasi Jalur Transjakarta

Artikel ini diambil dari Harian Kompas nomor 039 Tahun ke-46 oleh Emilius Caesar Alexey dan Neli Triana Lima hari terakhir, pemandangan kontras terlihat di Jakarta. Sterilisasi menyebabkan jalur bus Transjakarta bebas hambatan, tetapi pengguna jalur regular dipaksa terbebat kemacetan yang mebuat frustasi. Kamis(5/8) pagi, Martin yang biasan ya menyetir mobil menuju Jalan Jendral Sudirman justru mengarah ke barat menuju Ragunan. Warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu ingin membuktikan tentang berita jalur bus transjakarta yang lebih cepat daripada biasanya. Mobilnya diparkir di dekat Kebun Binatang Ragunan dan Martin berjalan kea rah halte bus transjkarta di Terminal Ragunan, ujung koridor VI Ragunan-Dukuh Atas. Uang pembayar tiket sudah tersedia di sakunya dan dompet masuk ke tas untuk menghindari pencopetan. “Saya ingin mencoba angkutan massal yang katanya sudah lebih cepat karena sterilisasi ini. Saya sudah bosan terjebak kemacetan dan harus membayar joki saat menuju ke Jalan ...

Masa Depan Sungai Ciliwung

Apa yang terfikirkan di dalam benak Anda tentang s alah satu sungai yang ada di Jakarta ini. Mungkin yang di pikiran Anda adalah sungai kotor, bau, hitam warnanya, banyak sampah atau yang lainnya. Ya, itu memang benar dan sesuai dengan faktanya. Tapi apakah Anda tidak berfikir bagi sebagian orang, Ciliwung mempunyai banyak manfaat. Khususnya yang hidup disekitar sungai tersebut. Bagi mereka Ciluwung menyimpan sejuta manfaat dan sejuta harapan. Mereka hidup disana juga karena terpaksa. Tapi mereka tetap tegar dsan sabar meski memiliki resiko yang cukup besar, yaitu banjir bisa menyapa dan mendatangi rumah mereka. Hari demi hari mereka jalani d engan was – was karena bias sewaktu – waktu banjir bias mendatangi rumah mereka. Tapi menurut saya, yang menyebakan banjir itu sering terjadi karena ulah mereka itu juga. Mereka membuang sampah sembarangan, tidak memperhatikan alam, tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Akibatnya, air sungai mampet lalu meluap kemudian banjir. Tapi sebagai...