Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hikmah

Hakikat Ibadah Kurban

Oleh: Imam Nawawi Setiap tahun umat Islam bertemu dengan Dzulhijjah. Bulan yang di dalamnya disunahkan bagi setiap Muslim untuk menyembelih hewan kurban. Syariat yang ditetapkan oleh Allah sesaat setelah Nabi Ibrahim berhasil menundukkan ego dalam dirinya dan sepenuhnya total mengabdi kepada Allah dengan siap mengorbankan apa pun demi mendapat rida Allah, termasuk harta termahal di dunia, yaitu seorang anak. Pergulatan panjang, bahkan diskusi dengan sang putra Nabi Ismail ketika mendapat perintah untuk menyembelih harta termahalnya itu, mengantarkan Nabi Ibrahim tetap memilih taat kepada Allah dengan benar-benar akan menyembelih putranya. Tetapi, kasih sayang Allah luar biasa. Allah menggantikan sosok Nabi Ismail dengan seekor domba untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim. Tentu ada banyak pelajaran dari syariat kurban yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim itu. Secara pribadi, kurban bagi seorang Muslim adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT untuk benar-benar m...

Cukup Allah sebagai Pelindung: Kisah Hamka di Penjara Sukabumi

Oleh  Pr of Dr Yunahar Ilyas Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar. Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar. Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati. Sehubungan de...

Hak - hak Anak Yatim

Oleh  Prof Dr KH Achmad Satori Ismail Ka'ab bin Malik RA berkata, "Masalah pertama yang menyebabkan Abu Lubabah tercela adalah karena dia dan anak yatim berselisih tentang dahan banyak tangkai (yang disenanginya)." Keduanya mengadu kepada Rasulullah SAW dan beliau memenangkan Abu Lubabah. Anak yatim tersebut menangis. Lalu Rasul bersabda, "Wahai Abu Lubabah, berikanlah dahan itu untuknya." Abu Lubabah keberatan. Rasulullah SAW mengulangi permintaan beliau, "Berikanlah dahan itu kepadanya dan kamu akan mendapatkan surga." Tapi, Abu Lubabah tetap menolak. Tidak lama kemudian datanglah Abu Dahdah menghampiri Abu Lubabah seraya berkata, "Juallah dahan itu dengan dua kotak kebunku." Abu Lubabah menerimanya.  Lalu, Abu Dahdah membawa dahan itu kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, "Wahai Rasul, jika aku berikan dahan ini kepada anak yatim itu, apakah aku akan mendapatkan semisal dahan ini di surga." Nabi SAW mengiyakannya. Maka, dahan it...

Biarkan Hati Menjawabnya

Oleh Abi Muhammad Ismail Halim  Seorang bertanya kepada gurunya yang mulia, “Kebanyakan orang mengatakan bahwa saya ini orang yang baik, maka bagaimana saya bisa tahu bahwa saya benar-benar orang baik?” Sang guru pun berkata:  “Nampakkanlah sikap dan perilaku yang selama ini kamu sembunyikan di hadapan orang-orang baik.  Jika mereka merasa senang, maka itu pertanda bahwa engkau adalah orang baik.  Sebaliknya jika mereka merasa tidak senang, maka itu adalah pertanda bahwa engkau bukan orang baik.” Rasulullah SAW telah menjelaskan kepada para sahabatnya bahwa,  “Kebajikan itu adalah baiknya budi pekerti dan dosa itu apa-apa yang meragu-ragukan dalam jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu”.   Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa  sesungguhnya dari apa yang telah didapat oleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama adalah, “Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” Ketika sahabat lain bertanya kepada R...

1001 Doa Di Bulan Ramadhan

Dan ampunilah aku, Wahai Pengampun para pembuat dosa. Yaa Allah! Janganlah Engkau hinakan aku karena perbuatan maksiat terhadap-MU, dan janganlah Engkau pukul aku dengan cambuk balasan-MU. Jauhkanlah aku dari hal-hal yang dapat menyebabkan kemurkaan-MU, dengan anugerah dan bantuan-MU, Wahai puncak keinginan orang-orang yang berkeinginan! Yaa Allah! Bantulah aku untuk melaksanakan puasanya, dan ibadah malamnya. Jauhkanlah aku dari kelalaian dan dosa-dosanya. Dan berikanlah aku dzikir berupa dzikir mengingat-MU secara berkesinambungan, dengan Taufiq- MU, Wahai Pemberi Petunjuk orang-onang yang sesat. Yaa Allah! Berilah aku rizki berupa kasih sayang terhadap anak-anak yatim dan pemberian makan, serta penyebaran salam, dan pergaulan dengan orang-onang mulia, dengan kemuliaan-MU, Wahai tempat berlindung bagi orang-orang yang berharap Ya Allah, telah tiba bulan Ramadhan. Wahai Tuhan pemilik bulan Ramadhan, Engkau telah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya dan telah menjadikannya sebagai penj...

Keberkahan Waktu Sahur

Ole h  Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc Waktu adalah ibarat pisau atau pedang yang sangat tajam. Jika Anda tidak bisa menggunakannya dengan baik dan tepat, bisa jadi pisau atau pedang itu akan melukai diri Anda sendiri. Itulah salah satu nasihat bijak dari Ali bin Abi Thalib tentang urgensi waktu dalam kehidupan umat manusia. Karena pentingnya masalah waktu ini, sehingga Allah SWT pun sering bersumpah di dalam Alquran dengan mempergunakan kata-kata waktu. Misalnya "Demi masa." (QS [103]: 1), "Demi waktu dhuha." (QS [93]: 1), "Demi waktu malam." (QS [92]: 1), dan "Demi waktu fajar." (QS [89]: 1). Di antara waktu yang mendapatkan perhatian Alquran dan as-sunnah adalah waktu sahur. "Orang-orang yang sabar, orang-orang yang jujur, orang-orang yang tunduk dan patuh (pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya), orang-orang yang menginfakkan sebagian hartanya, dan orang-orang yang memohon ampun kepada Allah pada waktu sahur." (QS Ali Imran [3]: 17)....

Melawan Diri Sendiri

Manusia, beragam manusia terkumpul dihadapan sang pencipta, Allah Ta’Ala, tatkala dihisab semua amalnya yang dilakukan di dunia. Baik itu amal baik maupun buruk, semua terhisab. Kemudian di tentukan apakah hamba itu layak masuk ke istana surga atau tidak. Itulah beberapa kejadian yang akan menanti kita di alam akhirat nanti selepas kontrak hidup di dunia usai. Lantas apa yang menjadi bekal kita nanti? Apa yang akan dibawa dihadapan Allah SWT kelak?  Amal baikkah atau amal buruk? Semuanya tergantung kita sendiri menjalani hidup di dunia ini dengan jalur mana. Kita ambil contoh pahitnya, amal buruk. Di dunia kita hiasi hari-hari dengan beramal, tapi amal buruk. Hehe. usia sudah semakin tua, kontrak sudah kian mendekati waktu tempo. Tapi kita masih biasa – biasa saja menjalani hidup, masih penuh akan dosa maksiat. Seakan tidak bisa digoyahkan hati untuk bertobat. Tapi percayakah kawan, dalam hati kecil setiap umat manusia masih terdapat secercah cahaya kebaikan. Cahaya yang siap dib...

Ketika Hati Galau dan Terasing

Oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham Ibnu Mas'ud RA pernah didatangi oleh jamaahnya selepas taklim. "Tempat mana yang harus aku datangi saat aku mendapati keadaanku galau dan terasing?" seru jamaah. "Datangilah tempat yang Alquran sering dibacakan. Kamu duduk dan simak bacaannya. Niscaya kamu akan dapati ketenangan. Lalu, datangi tempat-tempat yang kamu diajak untuk mengingat dan menyebut Allah dan akan bertambah ilmumu. Terakhir, datangi alas sajadahmu di keheningan malam dan mengadulah kepada Rabb Pengatur hidupmu."  Cerita sarat hikmah ini boleh jadi menjadi bagian dari cerita hidup kita. Karena satu hal yang pasti, keadaan galau dan terasing menjadi sesuatu yang tidak bisa terpisah dalam perjalanan hidup manusia. Dan, di antara kunci melepas lara dan keterasingan hidup adalah dengan sering mendatangi majelis-majelis ilmu dan zikir.  Rasul pernah mengatakan, betapa beruntungnya orang yang rajin dan istiqamah hadir di majelis-majelis ilmu dan zikir. "Tidakla...