Minggu, 30 Mei 2010

Home » » Keseriusan William Tanuwijaya Mengolah Tokopedia

Keseriusan William Tanuwijaya Mengolah Tokopedia

Posted by Ahmad Fajar on 19.33 0 komentar

Dari sederetan pemenang Bubu Awards 2009, kemenangan Tokopedia merupakan sebuah kejutan tersendiri. Selain masih berstatus closed beta, situs ini berhasil menyingkirkan beberapa finalis lainnya dalam kategori e-commerce.

Berikut adalah penuturan dari salah satu founder Tokopedia, yang bernama William Tanuwijaya, yang juga mewakili tim Tokopedia. Menurutnya, beliau adalah seorang penggemar film yang suka dengan dunia web. Cowok kelahiran Pematangsiantar ini telah menetap di Jakarta sejak kuliah Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara (1999). Setelah lulus di tahun 2003, beliau sempat bekerja di salah satu perusahaan lokal. Sekarang hanya Tokopedia yang ada di dalam benaknya, karena memang dia pendiri sekaligus direkturnya.


Mengapa Tokopedia? Bukan Musicpedia atau Bloggerpedia? Pada dasarnya, mengapa memilih e-commerce?

Karena kami lihat sebenarnya di Indonesia demand-nya sudah tinggi dan market-nya pun sebenarnya sudah terbentuk. Transaksi online sudah dibangun lewat berbagai media seperti forum, blog, hingga situs jejaring sosial. Hanya saja karena fungsi media-media tersebut sebenarnya bukan untuk mengakomodasi keperluan transaksi online, banyak kendala yang terjadi, misalnya tidak jarang terjadi kasus penipuan karena transaksi yang terjadi umumnya hanya dibangun lewat kepercayaan dan terjadi lewat fitur bertukar pesan pribadi.

Umumnya alasan dari pihak penjual memanfaatkan media-media tersebut untuk berjualan online, selain karena memanfaatkan komunitas yang sudah ramai, mereka juga umumnya mengalami kendala biaya dan waktu untuk membangun website e-commerce mereka sendiri. Lantas, kami pikir andaikan Indonesia punya satu wadah e-commerce besar dan terpercaya, ini pasti bisa jadi solusi yang baik.

Nama Tokopedia sendiri berasal dari mana?

Kalau soal kenapa kemudian dipilih nama Tokopedia, bisa di baca di blog Tokopedia: Di Balik Nama Tokopedia

Sebelum berlanjut jauh, siapa sih dalang dari projek Tokopedia ini?

Ketika masih berada di tataran ide awal, dijalankan hanya berdua, oleh saya dan Leontinus Alpha Edison. Setelah mendapatkan dana investasi dan berwujud perusahaan di awal tahun 2009, kami berdua kemudian menjabat sebagai direktur di PT. Tokopedia. Sejak itu team kami terus berkembang, sudah ada tambahan tenaga lewat Yusar Chavik Harun yang bertanggung jawab di sisi teknis, dan David Harnadi yang bertanggung jawab di sisi edukasi user dan moderasi. Kami masih terus berusaha mencari tenaga tambahan yang bisa membantu kami mengembangkan Tokopedia menjadi sebuah industri e-commerce di Indonesia, jadi buat pembaca NavinoT yang tertarik, bisa kirim CV nya ke career[at]tokopedia[dot]com.

Ah, ada investasi! Berapa modal awal Tokopedia?

February 2009 kemarin, kami mendapatkan investasi modal awal sebesar 2,5 Milyar Rupiah.

Boleh tahu siapa investor Tokopedia?

Nama lengkap beliau Victor Fungkong. Beliau adalah seorang pengusaha yang punya investasi di berbagai sektor industri. Investasinya untuk PT. Tokopedia dilakukan lewat salah satu perusahaan yang dimilikinya, PT. Indonusa Dwitama.

Untuk Tokopedia, apa statusnya sekarang? Bila masih beta, apakah ada target khusus untuk peluncurannya?

Tokopedia sekarang masih dalam status closed BETA dengan sifat invitation only. Tanggal 17 Agustus nanti, jika tidak berhalangan, kami rencanakan sudah bisa masuk ke tahap public BETA.

Apa yang spesial dari Tokopedia? Apa yang membedakan layanan ini dengan online marketplace lainnya?

Di Tokopedia semua orang bisa membangun toko online mereka sendiri dengan cara yang sangat mudah. Tidak sekedar nama domain saja yang didapat tapi juga management etalase dan gudang, fitur e-commerce, hingga management transaksi semuanya sudah disediakan.

Saat ini memang sudah ada beberapa online marketplace Indonesia yang sifatnya pengunjung bisa buka toko dan mendapatkan nama domain juga, hanya saja dari pengamatan kami kebanyakan sifatnya hanya untuk beriklan. Dalam artian transaksi tidak terjadi di online marketplace tersebut, tapi terjadi dengan cara menghubungi si penjual langsung, baik lewat pesan pribadi, sampai telepon langsung.

Menurut pandangan kami, jadinya tidak ada perbedaan signifikan dengan berjualan di forum, blog, maupun situs jejaring sosial, karena masalah keamanan transaksi masih menjadi kendala. Calon pembeli pun sering bingung, karena begitu banyak penjual yang beriklan tanpa diketahui mana yang sebenarnya serius berjualan karena ujung-ujungnya untuk bertransaksi harus menghubungi si penjual terlebih dahulu.

Di Tokopedia, transaksi diharuskan terjadi lewat situs tokopedia. Jadi kami bukan website untuk beriklan, tapi benar-benar merupakan website e-commerce. Singkatnya menurut kami, di Indonesia kebanyakan online marketplace yang terbentuk lebih mirip Craigslist, sementara yang Tokopedia bangun bentuknya lebih mirip Amazon atau eBay. Dimana setiap orang nantinya bisa memiliki Amazon-Amazon mereka sendiri dengan gratis dan mudah dikelola.

Bisnis model apa yang dipakai? Biaya berlangganan bulanan atau sistem komisi?

Untuk menggunakan website Tokopedia baik dalam membuka toko online, berjualan maupun belanja, dipastikan akan gratis selamanya.

Ke depannya kami akan menerapkan sistem komisi untuk setiap transaksi yang berhasil. Hanya saja besarnya nilai komisi dan kapan akan mulai diberlakukan sistem komisi belum kami tetapkan, yang pasti tidak dalam waktu dekat. Sepertinya sepanjang tahun 2010 nanti masih akan bebas komisi.

Saat ini kami ingin fokus terlebih dahulu dalam membangun dan mempelajari pasar, kemudian baru merumuskan bisnis model yang paling tepat.
Biasanya, seorang entrepreneur menyediakan suatu layanan karena ingin menawarkan suatu solusi, apa kiranya permasalahan yang ada, dan solusi apa yang ditawarkan?

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, ide Tokopedia lahir memang karena adanya permasalahan yang timbul di transaksi jual beli online Indonesia.

Dari sisi penjual rata-rata punya kendala biaya untuk membangun website e-commerce mereka sendiri, lewat Tokopedia semua itu bisa didapatkan dengan gratis dan mudah dikelola.

Selain itu juga ada kendala di masalah kepercayaan pasar di sisi pembeli, dimana mereka umumnya ragu-ragu ketika ingin belanja online karena harus membayar terlebih dahulu kepada penjual, sementara ada kekhawatiran barang tidak pernah dikirim. Tokopedia menyediakan mekanisme transaksi yang lebih aman dimana Tokopedia memposisikan diri sebagai mediator antara penjual dan pembeli. Jika mengambil analogi dunia nyata, ini mirip model mekanisme transaksi di beberapa food court mall besar; yang memberlakukan sistem makannya boleh mesan dari tenant mana saja, bayarnya di satu tempat; kemudian nantinya baru si tenant hitung-hitungan dengan pihak pengelola food court.

Tokopedia juga selalu melakukan fungsi moderasi, sehingga seiring berlalunya waktu nantinya toko-toko online yang ada di Tokopedia adalah toko-toko online yang memang punya reputasi yang baik.

Apa ada target khusus setelah peluncuran? Seperti jumlah toko atau pengguna?

Target jangka panjang kami adalah berhasil menjadi acuan untuk pengguna Internet Indonesia, kalau mau belanja online atau jualan online larinya ke Tokopedia. Sementara untuk jumlah toko dan pengguna tidak ada target khusus, harapannya tentu saja sebanyak-banyaknya

Bagaimana perasaan anda menjadi finalis Bubu Awards? Dan menang tentunya?

Saat berhasil menjadi finalis, perasaannya tentu saja senang. Senang karena berarti ada pengakuan.

Ketika menang, terus terang cuma ada satu perasaan… kaget luar biasa, karena benar-benar di luar dugaan, terlebih karena Tokopedia sebenarnya masih dalam versi closed BETA, bahkan saat di submit dulunya masih dalam versi demo.

Saat ikutan di awal, kami sebenarnya hanya ingin numpang kesempatan untuk menunjukkan hasil karya kepada juri-juri yang kebetulan banyak diisi nama-nama besar pelaku ICT dari manca-negara, “Ini loh, sebentar lagi Indonesia bakal punya website e-commerce yang dikelola secara serius dan profesional.

Dari penjelasan anda, terkesan bahwa anda ingin menjadi Amazon atau eBay versi Indonesia. Tentunya transaksi hanya dilakukan lewat situs perantara. Nah, bagaimana tanggapan anda untuk mencegah transaksi di luar situs?

Saat kami baru meluncurkan versi closed BETA, banyak kejadian seperti ini: Seller meng-upload produk mereka misalnya dengan nama produk “Kamera SONY dibawah 3 juta” dengan deskripsi produk berisi list produk kamera SONY dengan berbagai tipe, harga, dan warna; kemudian diakhiri dengan informasi jika ingin membeli hubungi nomor telepon, ym, alamat email, atau kunjungi website tertentu.

Nah, hal seperti ini yang kami sebut sebelumnya sebagai beriklan, bukan berjualan di Tokopedia. Dengan deskripsi seperti itu, transaksi tidak mungkin terjadi di Tokopedia; karena calon pembeli diharuskan untuk menghubungi penjual terlebih dahulu untuk deal tipe, harga, dan warna sebelum bertransaksi. Fitur e-commerce Tokopedia seperti shopping cart, check out, tracking order, dan seterusnya juga tidak bisa berjalan.

Hal-hal seperti ini yang kami larang dan kami moderasi, karena Tokopedia bukan website untuk beriklan, tapi website tempat terjadinya transaksi. Hal seperti ini memang kami sadari butuh proses edukasi, kalau nantinya sudah rapi, calon pembeli pun nyaman untuk belanja, masukin shopping cart, check out, bayar, track order, barang sampai. Calon pembeli nyaman belanja, penjual juga yang diuntungkan.

Sementara jika nantinya seller sudah meng-upload produk mereka dengan benar, akan tetapi calon pembeli lebih memilih menghubungi langsung seller untuk bertransaksi di luar Tokopedia, tentunya hal seperti ini tidak bisa kami larang.



Untuk peluncuran public beta pada tanggal 17 agustus nanti, berapa toko yang siap buka gerai?

Hingga hari ini sudah terdapat 70 toko yang sudah menata etalase mereka. Barangkali nantinya diantara pembaca NavinoT ingin berpartisipasi buka gerai di hari launching Tokopedia, silahkan minta invitation-nya via halaman Home Tokopedia

Untuk membuka layanan e-commerce, biasanya kendalanya tidak ada penjual, berarti tidak ada pembeli/pengunjung. Begitu juga sebaliknya, tanpa penjual, pengunjung juga enggan. Apakah sudah ada trik khusus untuk memecahkan dilema ini?

Benar, hal ini kami sadari betul. Itu sebabnya Tokopedia menggunakan fase Closed BETA, selain untuk memastikan fitur-fitur berjalan dengan semestinya, juga berguna menggaet beberapa seller online untuk membuka gerai mereka dan menata etalase terlebih dahulu. Sehingga pada saat launching nanti, sudah ada puluhan gerai dan ratusan produk siap dijual. Ibaratnya seperti sebuah mall, ga asik banget kan kalau pas launching gerai-gerai nya masih kosong melompong?

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengembangkan Tokopedia?

Kami mulai develop situs Tokopedia secara serius sejak January 2009. Pada tanggal 14 July kemarin sudah memasuki versi Closed BETA.

Bisa jelaskan platform atau framework yang dipakai?

Perl, Javascript, XHTML, CSS, PostgreSQL. Komponen-komponen tersebut kami bangun menjadi framework Tokopedia.
Bagaimana dengan server? Berapa biji disiapkan untuk public beta?

Kami sudah siapkan 6 server, co-location.

— akhir dari wawancara —

Nampaknya Tokopedia merupakan proyek serius yang diharapkan bisa mewarnai dunia e-commerce Indonesia. Bagi para pembaca yang mempunyai pertanyaan khusus, silahkan saja berkicau di kolom komentar.

sumber : NavinoT.com


0 Responses so far:

Leave a Reply

Ayo utarakan saran atau tambahan atau bahkan kritik lewat Komentar