Selasa, 05 Oktober 2010

Home » » Indonesia Lalu, Kini dan Esok

Indonesia Lalu, Kini dan Esok

Posted by Ahmad Fajar on 13.13 0 komentar

Tumpah Darah Satu, Tumpah Darah Indonesia. Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia. Berbangsa Satu Bangsa Indonesia. Itulah sepetik dari sumpah salah satu pahlawan Nasional Indonesia yaitu Gajah Mada yang mampu menyatukan Rakyat Indonesia menjadi satu kesatuan yang kokoh. Namun apakah kita masih bisa disebut-sebut sebagai Masyarakat atau Bangsa yang kokoh lagi?

Dahulu memang bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang patut untuk dipikir ulang oleh bangsa lain. Mereka menghormati pemimpin kita, memandang nenek moyang kita serta menyanjung limpahan rahmat dan anugerah alam kita. Tapi seiring berjalannya waktu, kini Indonesia hanya menjadi sebuah nama, sebuah Negeri yang serba kekurangan, keterlambatan dan kemiskinan. Namun perlu kita garis bawahi, Indonesia adalah tanah air kita, negeri kita. Saya jadi teringat akan apa yang dituliskan oleh Pak Jakob Oetama dalam bukunya yang berjudul Berpikir Ulang Tentang Keindonesian,

…“Inilah rumah kita! Masih bocor atapnya, masih berlubang dindingnya, masih tanah sebagian ubinnya. Baiklah, tetapi itulah rumah kita sendiri, tidak lagi menumpang, tidak lagi ngontrak. My home is my castle! Rumah kita adalah istana kita. Masih harus kita rawat. Masih harus kita perbaiki. Akan tetapi, inilah rumah kita, milik kita sendiri. Tetaplah kita betah di negeri sendiri. Bersama-sama marilah terus kita bangun rumah kita”…

Indonesia yang dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan Sumber Daya Alam yang indah nan subur, sumber daya manusia yang berlimpah dan yang terpenting lagi ialah keanekaragaman sosial dan budaya. Sungguh itu semua adalah pemberian sangat berharga yang wajib kita syukuri dengan cara menjaga dan merawat itu semua.

Bisa kita ambil contoh, Indonesia yang menjadi satu-satunya Negara dengan populasi suku – suku terbanyak di dunia yang tersebar mulai dari Pulau Weh sampai dengan Kota Merauke. Terdapat sekitar 500 lebih suku. Bisa dibayangkan betapa banyaknya itu yang belum tentu dimiliki oleh Negara maju sekalipun. Hal inilah yang menjadi salah satu permasalahan pokok bagi Indonesia. Kenapa? Karena dengan banyaknya perbedaan – perbedaan tersebut, sering terdengar konflik antar suku yang disebabkan oleh masalah sepele saja. Bahkan bisa dikatakan sudah menjadi rival utama.

Menyebarnya berbagai konflik yang terjadi belakangan ini tak lain disebabkan oleh karena mereka tak saling menghormati, tidak saling toleran, dan yang terpenting adalah sikap mau menerima. Kenapa saya bilang sikap mau menerima itu penting? Karena menurut saya, menerima akan sesuatu itu cukup menentukan semuanya. Jika saja setiap suku mau menerima kekurangannya, mau menerima atau mengakui kesalahannya, niscaya berbagai konflik tersebut tidak akan terjadi.

Indonesia yang notabene adalah Negara kepulauan terbesar di dunia ini ternyata menyimpan selusin kisah dan sejuta kenangan. Tempo dulu para pejuang bangsa telah berjuang dalam merebut dan mempertahankan Negara tercinta ini. Sebagaimana yang telah di lukiskan bagaimana kondisi di kala itu oleh Sultan Sjahrir...“Ucapan-ucapan kegelisahan rakyat yang kerapkali merupakan perbuatan-perbuatan yang kejam serta pelanggaran hak milik dengan kekerasan, dapat dimengerti jika dicari sebab-sebabnya yang lebih dalam. Selama tiga setengah tahun penjajahan Jepang, sendi-sendi masyarakat di desa, diobrak-abrik serta diruntuhkan dengan kerja paksa, dengan penculikan orang desa dijadikan romusha jauh dari tempat tinggalnya, dijadikan serdadu, dengan penyerahan hasil bumi secara paksa, dengan penanaman hasil bumi secara paksa, dengan sewenang-wenang yang tiada batasnya…Berpuluh ribu orang-orang desa melarikan diri ke kota menambah banyaknya jiwa di kota yang tidak punya pencarian yang tentu. Segala ini menyebabkan bahwa kegelisahan masyarakat di kota terus memuncak”.

Indonesia yang lalu, kini, dan esok tentu haruslah berbeda. Ya, berbeda dalam segala hal mulai dari kerukunan umat beragama, kerukunan antar suku, dan kekuatan mental untuk menjadi sesosok bangsa yang lebih baik. Maka dari itu kita sudah sepatutnya untuk merubah pola pikir kita menjadi lebih baik lagi, lebih menghormati perbedaan dan memberikan rasa toleransi kepada yang lainnya.Agar tercapai apa yang kita semua inginkan, yaitu kedamaian.


0 Responses so far:

Leave a Reply

Ayo utarakan saran atau tambahan atau bahkan kritik lewat Komentar