Minggu, 13 Desember 2009

Home » » Tour de Baduy

Tour de Baduy

Posted by Ahmad Fajar on 20.04 0 komentar

Berkunjung ke baduy selama tiga hari? Wah sebenarnya sih sangat tidak cukup karena begitu banyak tempat yang dapat dikunjungi disana. Namun apa daya, hanya tiga hari kesempatan yang saya dapat.


Baduy yang terletak di desa Kenekes, Lebak, Banten memeang menyimpan sejuta misteri dan menawarkan lusinan tempat dan atraksi yang dapat dikunjungi. Namun daya tarik utamanya tentu saja, kehidupan sederhana dari masyarakat Baduy itu sendiri dan dari kekuatan untuk menempuh perjalanan jauh ke kota lain dengan jalan kaki. Mereka hidup tanpa adanya listrik, kemodernan dan kemewahan. Yang ada hanyalah kesederhanaan dibalik misteri.

Kamis pukul enam pagi, saya berangkat serta berpamitan menuju stasiun Tanah Abang untuk berkumpul bersama-sama dengan guru dan teman-teman yang lain. Sekitar pukul setengah delapan pagi kereta meniupkan terompetnya yang menandakan kereta tujuan Rangkas Bitung segera berangkat. Berbekal semangat dan doa, kami berangkat meninggalkan kehidupan modern menuju kehidupan sederhana.

Kami ber-37 orang dibagi menjadi 4 kelompok yang diharuskan diisi oleh dua orang laki-laki pada setiap kelompoknya. Saya mendapatkan kelompok ke-4 bersama Alfian Radhi, Diella Kumala, Jasmine Shalika, Lucia Nita, Steffira Wendy, Erin Mawarti dan Nabilla Smith serta Neng Silva. Masing-masing kelompok mempunyai ketua kelompok. Ketua kelompok kami adalah Alfian Radhi. Dan dua orang laki-laki mempunyai kewajiban untuk mengawasi dan melindungi anggota kelompoknya.

Saat itu kereta yang kami naiki adalah kerata patas ekonomi. Suasana keretanya tak lebih dari kereta ekonomi pada umumnya, yaitu banyak terdapat pengamen, pedagang asongan, pengemis, dll. Perasaan mendebarkan mulai terasa ketika penumpang yang lain hilir mudik bergantian memenuhi sudut-sudut yang masih kosong, barang-barang besar masuk dll. Namun itu semua tak mampu membongkar semnagat dan tekad kami untuk terus maju.

Sekitar pukul 1.30 siang kami tiba di stasiun Rangkas BItung. Saya dan teman-teman bergegas keluar dari kereta. Selanjutnya apa yang harus kami lakukan?..Yup..benar segera menuju toilet untuk membuang segala perasaan yang ditahan untuk dibuang selama perjalanan tadi. Kami makan siang di Rumah makan Padanag yang mengharuskan kami utnuk bergantian dalam menyantap hidangan khas minang tersebut.






Setelah makan siang, kami bertukar kendaraan dari kereta menuju mobil berjenis Elf yang muat lebih dari 10 orang. Karena dirasa terlalu sempit maka tas-tas yang super tebal dan gendut diputuskan untuk ditaruh di atap mobil. Saya lantas memanjat menuju puncak mobil tersebut. Lalu merapihkan dan membereskan tas-tas tersebut. Setiap mobil diisi oleh 2 orang guru. Sedangkan yang mengawasi kami yaitu Pak Tigor dan Pak Maulani.

Sejak saya beralih profesi menjadi tukang tata tas. Pak Tigor bertanya kepada saya “Sudah biasa ya kamu untuk urusan itu, karena kok saya lihat kamu itu begitu cekatan sekali!” say diam…lalu Alfian Radhi nyerocos “ dia mah sudah biasa di Tanah Abang bantuin bapaknya”.

Mobil kami termasuk istimewa karena “full music” Lagu dangdut. Sepanjang perjalanan, jalan berdebu karena sisi kanan jalan banyak penambang kapur dan pasir. Begitu sesak paru-paru dibuatnya. Setelah kurang lebih satu setengah jam perjalanan. Saya sampai di Ciboleger. Menemui Guide local kemudian shalah lalu berangkat kembali menuju Baduy Luar.

Perjalanan tidak lagi menggunakan alat trasportasi melainkan “By Sikil”. Melewati bukit yang penuh tanjakan dan turunan yang cukup terjal akhirnya kami sampai di Baduy Luar dengan selamat. Saat pandangan pertama, saya begitu heran karena biasanya orang Baduy yang mengunjungi saya, namun kali ini saya yang mengunjungi mereka.

Kami dibagi ke 3 rumah penduduk, laki-laki satu dan perempuan dua. Setelah menaruh barang-barang. Kami langsung menuju sungai untuk segera mandi karena sudah seharian penuh badan kami dihajar oleh kuman sekarang giliran kami yang menghajar kuman tersebut.

Saat kami sedang asik-asiknya mandi. Tiba-tiba sesosok benda panjang berwarna kuning melintas. Otomatis kami langsung menyingkir dair sungai. Rupanya banyak “ikan kuning” yang bertebaran di sungai, jadi kami harus lebih waspada. Setelah puas, kami selesai mandi dan berganti pakaian. Malam harinya ada acara briefing mengenai Bduy dan buang air besar.

Pak sarmin sebagai Guide lokal kami menjelaskan bagaimana cara hidup orang Baduy dan tata cara atau aturan yang harus kami patuhi selama tinggal di Baduy. Dan untuk buang air besar, kami bisa Buang Air Besarnya di sungai atau di hutan. Setelah mendengar itu, teman-teman saya pada malam harinya langsung menuju sungai untuk melakukan sebuah ritual yang sangat penting.

Keesokan harinya, saya dan teman-teman bergegas untuk menuju Baduy Dalam. Perjalan ditempuh dengan medan yang lebih ganas dari perjalanan dari Ciboleger ke Baduy Luar. Tanjakan hamper mencapai 90 derajat. Wahhh..bisa dibayangkan betapa kerasnya perjuangan kami.

Sesampainya di Baduy Dalam. Kami bertemu dengan para pimpinan Adat suku Baduy. Mereka disebut sebagai “Jalu”. Dan Jalu itu sendir memiliki atasan yang disebut dengan “Pu’un”. Saya heran katanya orang Baduy itu tidak sekolah, tapi kenapa Jalu yang menjelaskan tentang masyarakat Baduy kepada kami itu bahasanya seperti orang yang kuliah. Bagus sekali bahasa Indonesianya. Setelah berpamitan dengan para pemimpin Adat tersebut. Kami lantas kembali melanjutkan perjalanan menuju Baduy Luar dengan melewati jalan yang sama.

Pada malam harinya, teman-teman saya banyak membuka terapi pijat tradisional (termasuk saya). Ketika saya sedang memijat salah satu teman saya, pak Tigor bilang lagi “ kok pijatannya bagus gerakannya, kemarin cekatan dalam menata tas sekarang cekatan dalam memijat, belajar dimana?” Saya jawab “ini mah sudah biasa, hamper setiap malam saya memijat bapak saya.”

Keesokan harinya, kami bersiap-siap untuk segera kembali ke tempat asal kami yaitu, Jakarta. Namun setelah perjalanan menuruni bukit, kami naik mobil Elf kembali , tapi rasanya jalan yang pertama kami lewati tidak separah jalan yang sedang kami lewatio sekarang ini. Ini lebih banyak lubangnya, ayo dong bapak pemerintah, tolong di benarkan jalannya supaya lebih banyak turis yang dating ke Baduy.

Setelah itu kami naik kereta ekonomi tujuan stasiun Tanah Abang dengan melewati lebih kurang 15 stasiun. Setelah sampai kami berdoa karena Allah SWT telah melindungi saya dan teman-teman serta para guru.

Akhirnya tiga hari saya di Baduy pun berakhir. Namun saya bertekad akan kembalki lagi karena masih banyak ‘hutang’ yang belum saya lunasi. Masih banyak rintangan-rintangan lainnya yang ingin saya taklukkan.



0 Responses so far:

Leave a Reply

Ayo utarakan saran atau tambahan atau bahkan kritik lewat Komentar